google-site-verification: google7adaa44f8e64a07b.html

Video Pembelajaran Menganai Sistem Karburator


Video pembelajaran menganai sistem kerja karburator. Sangat cocok sebagai bahan ajar bagi para siswa/siswi SMK jurusan Teknik Kendaraan Ringan

Video Pembelajaran Menganai FGM-FI


Video Pembelajaran mengenai teknologi FGM-FI pada mobil. Sangat cocok sebagai media pembelajaran bagi siswa/i SMK Jurusan Teknik Kendaraan Ringan.

Cara Mencegah Terjadinya Knocking Pada Mesin Bensin Dan Mesin Diesel

Apabila permbakaran tertunda diperpanjang atau terlalu banyak bahan bakar yang diinjeksikan selama priode pembakaran tertunda, maka banyaknya campuran yang sedang terbakar akan berlebihan. Terlalu lamanya pase kedua ini ( rambatan api ). akan meyebabkan terlalu cepat naiknya tekanan dalam silinder, sehingga akan menimbulkan getaran menimbulkan getaran dan bunyi. Hal inilah yang dimaksud telah terjadi diesel knock  (knocking pada mesin diesel).

Untuk mencegah terjadinya diesel knocking, maka perlu dihindari meningkatnya tekanan secara tiba-tiba dengan adanya terbentuknya campuran yang mudah terbakar saat temperatur rendah. Dengan pembakaran diperpendek atau mengurangi bahan bakar yang diinjeksikan selama pembakaran tertunda.

Berikut ini metode yang bisa digunakan untuk mengatasi terjadinya diesel knocking,
a. Gunakan bahan bakar yang mempunyai nilai cetane yang tinggi
b. Menaikkan temperatur udara dan tekananannya saat mulai injeksi
c. Mengurangi volume injeksi saat mulai menginjeksian bahan bakar
d. Menaikkan temperatur ruang bakar. ( Pada ruang dimana bahan bakar diinjeksikan )

Untuk mengurangi knock diesel, terjadinya pengapian spontanitas yang dibuat lebih awal. ( Dalam mesin bensin sebaiknya untuk mencegah pengapian yang spontanitas ). Perbedaan cara mencegah knock seperti yang tertera pada tabel dibawah ini.

Mencegah terjadinya knocking
Perbandingan antara knocking mesin bensin dan mesin diesel pada dasarnya sama, masing-masing disebabkan naiknya tekanan yang tinggi yang disebabkan terlalu cepatnya bahan bakar terbakar.

Perbandingan knocking mesin bensin dan diesel
Agar lebih jelasnya dalam pemeriksaan disini akan diperlihatkan tipe dari perbedaan knocking seperti yang terlihat pada gambar diatas. Perbedaan utama adalah mesin bensin  knocking terjadi diakhir pembakaran, sebaliknya mesin diesel  terjadi pada saat awal  pembakaran.

Cara Mudah Pembacaan Hasil Pengukuran Mikrometer

Pembacaan hasil pengukuran alat ukur mikrometer berbeda dengan alat-alat ukur yang lainnya. Dimana pada sebagian alat ukur, hasil pembacaan bisa langsung tertera pada alat tersebut, sedangkan hasil pengukuran alat ukur mikrometer, seseorang harus dapat menjumlahkan setiap nilai garis yang tertera pada skala thimble dan outer sleeve. 

Sebelum menggunakan mikrometer, maka anda harus mengkalibrasinya. Untuk mempelajarinya lebih mudah, klik Cara Mudah Mengkalibrasi Mikrometer

Cara Pembacaan hasil pengukuran mikrometer

Seperti yang terlihat pada gambar diatas, setiap skala mempunyai nilai garis yang berbeda. Untuk memudahkan pembacaannya, saya coba mempermudah bagi anda-anda yang agak merasa kesulitan dalam pembacaan alat tersebut. 

1. Skala Atas 
Skala atas adalah garis atas yang berada pada outer sleeve. Nilai satu garis / satu strip yaitu 1 mm (milimeter). Garis awal pada skala atas outer sleeve berberbeda-beda, tidak harus dimulai dari angka nol. Nilai garis awal tergantung dari jenis pengukuran mikrometer yang digunakan. 
0 - 25 mm   ( garis awal 0 )
25 - 50 mm ( garis awal 25 )
50 - 75 mm ( garis awal 50 )
75 - 100 mm ( garis awal 75 )
dst

2. Skala Bawah 
Skala bawah yaitu garis bawah yang terdapat pada skala outer sleeve. Nilai satu garis / satu strip yaitu 0,5 mm (setengah). Garis ini terletak ditengah-tengah diantara dua skala atas. Pada pembacaan nantinya, nilai skala bawah hanya ada dua kemungkinan, yaitu 0,00 mm dan 0,50 mm. 

3. Skala Thimble
Skala thimble yaitu garis yang terdapat pada skala thimble. Jumlah garis keseluruhan yang ada pada skala thimble sebanyak 50 garis. Nilai 1 garis / 1 strip yaitu 0,01 mm. Hal -hal yang perlu diperhatikan pada skala thimble yaitu : 

a. 1 x putaran penuh thimble = 0,5 mm ( 1/2 dari nilai skala atas )
    * Jika pada awal mula angka 0  thimble satu garis lurus dengan angka  0 "nol" outer sleeve, maka          setelah diputar  1 x putaran penuh, angka 0 skala thimle harus satu garis lurus dengan 0,5 pada            skala bawah   milik angka 0. Lihat gambar dibawah untuk lebih jelas,


Skala bawah pada mikrometer
b. 2 x puratan penuh thimble = 1 mm 
     *Jika pada awal mula angka 0  thimble satu garis lurus dengan angka  0 "nol" outer sleeve, maka          setelah diputar 2 x putaran  penuh, angka 0 skala thimle harus satu garis lurus dengan 1 mm pada        skala atas outer sleeve.

Setelah mengetahui nilai - nilai pada setiap skala, saatnya kita belajar bagaimana cara membaca mikrometer dengan baik dan benar. Berikut ini contoh-contoh pembacaannya, 

Contoh 1 . 

Hasil pembacaan pengukuran diatas 7,65 mm
Seperti yang terlihat pada gambar diatas, bahwa hasil pengukurannya adalah 7,65 mm. Ini didapat dari penjumlahan dari ketiga komponen yang saya jelaskan diatas.

Nilai skala atas           : 7,00  mm
Nilai skala Bawah      : 0,50  mm ----------------> karena 0,5 milik 7 sudah kelihatan
Nilai Skala Thimble   : 0,15  mm  +
                                      7,65  mm

untuk memperjelas hasil pembacaan diatas, berikut gambar lebih rincinya


penjelasan lebih rinci tentang contoh no. 1

Contoh no. 2.

Nilai hasil pengukuran yaitu 5,20 mm
Nilai skala atas           : 5,00  mm
Nilai skala Bawah      : 0,00  mm  -----------------------> Karena 0,5 milik 5 tidak kelihatan
Nilai Skala Thimble   : 0,20  mm  +
                                      5,20 mm


Contoh 3.
Setelah mempelajari contoh 1 dan 2, selanjutnya pada contoh yang ketiga coba anda kerjakan sendiri ya,,


Cara Mudah Mengkalibrasi Alat Ukur Mikrometer

Alat Ukur Mikrometer
Di dalam duna otomotif, alat ukur mikrometer menjadi kebutuhan utama dalam mengukur komponen-komponen yang akan diperbaiki. Apalagi jika anda seorang mekanik, maka ini  adalah menjadi hal yang wajib bagi anda untuk mengetahui bagaimana langkah dasar dalam menggunakan alat ini. 

Sebelum digunakan untuk mengukur, mikrometer hukumnya wajib dikalibrasi. Mengapa demikian ? karena mikrometer termasuk salah satu golongan alat ukur yang mempunyai ketelitian 1/100 ( 0,01mm ). Selain itu, alat ini juga sangat sensitif terhadap benturan dan suhu yang mengharuskan kita harus berhati-hati dalam menggunakannya dan perawatannya. 

Jika kita salah dalam menggunakannya dan tidak dikalibrasi, kemungkinan hasil pengukuran kita tidak akan benar. Dan ini menjadi kesalahan fatal dalam pengukuran. Oleh karenanya perhatikanlah langkah-langkah berikut ini dalam mengkalibrasi alat ukur Mikrometer. 

1. Meletakkan Mikrometer Pada Stand
Meletakkan Mikrometer Pada Stand
Ini dilakukan untuk memudahkan anda melihat dan lebih leluasa dalam meluruskan angka 0 "Nol"
yang nantinya harus anda lakukan memutar thimble dan rachet stopper. Jika anda tidak mempunyai stand khusus mikrometer, maka anda juga bisa menggunakan cara alternatif dengan menggunakan ragum dan sejenisnya. 

2. Membersihkan Mikrometer

Membersihkan ujung Anvil dan Spindel
Dengan menggunakan kain bersih, bersihkanlah semua bagian mikrometer dengan teliti. Terlebih pada ujung bagian anvil dan spindel, karena kedua komponen inilah yang nantinya bersentuhan langsung dengan benda yang akan anda ukur. Oleh karena itu, yakinkanlah bahawa tidak ada benda asing yang menempel pada kedua ujung bagian tersebut. 

Selain itu, jika terdapat karat yang berlebih pada batang thimble, anda bisa membersihkannya dengan cara melumasi bagian ini dan memutar-mutar hingga tidak terasa kesat. Karena jika hal ini terjadi, nantinya anda akan sangat kerepotan saat dilakukannya pengukuran. 

3. Memeriksa  Angka 0 (Nol)

Memeriksa angka Nol pada mikrometer
Setelah anda membersihkan semua bagian pada mikrometer, maka selanjutnya yaitu memeriksa angka 0 (Nol) pada outer sleeve dan thimble. Pada langkah ini yang harus anda lakukan yaitu   memutar rachet stopher hingga ujung anvil dan spindel bersentuhan. 

Dan untuk meyakinkan kekuatan sentuhannya, putar 3 sampai 4 kali lagi racet stoper. Kedua angka 0 "Nol" pada outer sleeve dan thimble harus pada posisi satu garis lurus.  Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini :
Posisi Angka "0" yang benar ( tidak memerlukan penyetelan )

Namun jika angka 0 (Nol) pada outer sleeve dan thimble tidak satu garis lurus, maka anda harus meluruskannya. Seperti pada gambar dibawah ini, dimana angka 0 (nol) pada outer sleeve dan thimble tidak pada satu garis lurus.
Posisi angka '0"yang tidak lurus (harus dikalibrasi)
4. Menyetel Angka 0 (Nol)\

Dalam menyetel angka 0 (nol) ada dua hal yang harus anda perhatikan, dimana pada proses ini anda harus benar-benar memutar komponen mikrometer yang dibutuhkan. 

a. Jika kesalahannya lebih kecil dari 0,02 mm
Menyetel angka 0 jika kesalahannya kurang dari 0,02 mm
Jika kesalahannya 0,02 mm atau kurang, maka yang harus dilakukan yaitu kunci spindle dengan memutar lock lamp. Kemudian putar outer sleeve menggunakan kunci penyetel sampai tanda "0" thimble lurus dengan garis,dan priksa kembali angka "0"

b. Jika kesalahannya lebih besar dari 0,02 mm

Menyetel angka 0 jika kesalahannya melebihi 0,02 mm

Jika kesalahannya melebihi 0,02 mm, maka yang harus dilakukan yaitu kunci spindel dengan memutar lock lamp. Kendorkan rachet stopper hingga thimble bebas berputar. Luruskan tanda "0" thimble dengan garis "0" pada outer sleeve. Selanjutnya kencangkan kembali rachet stopper dan periksa kembali tanda "0"

Jenis-jenis Sistem Pemanas Awal Pada Mesin Diesel

Konstruksi mesin Diesel
Perbedaan paling mendasar antara mesin bensin dan mesin Diesel adalah pada sistem pengapiannya. Dimana pada mesin Diesel tidak ada sistem pemantik pengapian, namun menggunakan metode Self Ignition (pembakaran sendiri). Metode ini mengandalkan udara yang dihisap sebagai pembakar bahan bakar pada ruang bakar.

Oleh sebab itu, untuk memaksimalkan pembakaran pada saat kondisi mesin dingin, pada mesin diesel ada penambah pemanas ruang bakar. Adapun jenis pemanas yang ada pada mesin diesel yaitu :

1. Glow Plug ( Busi Pijar )
Busi Pijar Pada Ruang Bakar Mesin Diesel
Busi pijar terbuat dari material Bimetal, mirip seperti bahan pada setrika. Dimana pada saat dialiri oleh arus listrik, maka busi akan memijar akibar batang yang memanas hingga berwarna kemerah-merahan. Hal inilah yang dimanfaat untuk memanasi ruang bakar sementara.

Cara pengoperasiannya dengan cara menekan tombol busi pijar yang ada di ruang kemudi. Dan biasanya digunakan pada awal pagi hari sebagai pemanas mesin. Waktu yang perlukan sekitar 5 sampai 10 menit saja. Jika mesin sudah hidup, maka busi pemanas tidak perlu dihidupkan lagi.


2. Coil Pemanas Udara Masuk

Udara pemanas mesin Diesel
Pada cara yang kedua yaitu dengan menggunakan coil pemanas. Coil pemanas dipasang pada saluran intake manifold ( saluran undara masuk ). Sehingga udara yang terhisap ke ruang bakar suhunya akan naik dan memudahkan pembakaran awal pada saat kondisi mesin masih dingin.

Seperti cara kerja pada jenis yang pertama, pada jenis coil pemanas juga sama yaitu dengan mengoperasikan tombol pada ruang kemudi.

Pengetahuan Dasar Sistem Bahan Bakar Mesin Diesel

Komponen-komponen sistem bahan bakar

Sistem bahan bakar mesin diesel menginjeksikan bahan bakar bertekanan tinggi ke dalam ruang pembakaran, dimana udara telah dimampatkan ke tekanan tinggi. Hal ini memerlukan perlengkapan khusus yang tidak digunakan di dalam mesin bensin.

Adapun keterangan angka pada gambar diatas adalah :
No.1 Tangki bahan bakar
No.2 Saringan bahan bakar dan sedimenter
No.3 Pumpa injeksi
No.4 Injektor


A. Tangki Bahan Bakar
Tangki bahan bakar 

Fungsi tangki bahan bakar adalah sebagai tempat menyimpan bahan bakar. Jenis material tangki yang digunakan pada mesin diesel biasanya terbuat dari bahan anti karat. Selain itu, pada tangki itu sendiri juga sering terjadi pengembunan akibat dari uap bahan bakar. Oleh karena itu, untuk mejaga kwalitas bahan bakar yang maksimal, maka kita diwajibkan untuk mencuci tangki dalam priode waktu tertentu. Karena jika tidak, maka kemungkinan besar bahan bakar diesel akan bercampur dengan air.


2. Saringan Bahan Bakar dan Sedimenter

Saringan bahan bakar diesel
Keterangan gambar :
1. Priming Pump
2. Saringan
3. Sedimenter

Gambar diatas adalah alat penyaring debu dan air dari bahan bakar untuk melindungi pompa injeksi dan nozzle-nozzle injeksi yang mengandung part-part kecil. Debu dan air harus dibuang dari bahan bakar untuk mencegah agar pompa injeksi tidak tersita atau berkarat, oleh  karena itu pompa injeksi harus selalu dilumasi dengan bahan bakar diesel itu sendiri. Ini menjadi salah satu keuntungan bagi komponen-komponen sistem bahan bakar, yang mana bahan bakar diesel memiliki salah satu sifat sebagai pelumas.

Priming pump berfungsi sebagai pempumpa awal ketika terjadi kekosongan bahan bakar pada pumpa injeksi setelah dilakukannya pembuangan angin dan lain sebagainya. Lain hal nya dengan sedimenter, komponen ini secara khusus  akan memisahkan air dan bahan bakar. Apabila kandungan air sudah terlalu banyak, maka sensor ketinggian air akan memberikan signal lampu yang ada di dasbord. Jika hal ini terjadi, maka kita wajib untuk membuang air yang ada pada sedimenter.

3. Pumpa Injeksi


Pumpa injeksi
Fungsi pumpa injeksi yaitu menginjeksikan (menaikkan ) tekanan bahan bakar yang berasal dari saringan ke injektor. Adapun jenis pumpa injeksi ada 2 macam yaitu :

1. Jenis In Line
2. Jenis Rotari

Dari kedua jenis pumpa injeksi diatas, pumpa injeksi jenis In Line lebih banyak digunakan untuk mesin-mesin diesel yang memerlukan tenaga besar. Karena jenis pumpa ini mempunyai kelebihan, bahwa setiap elemen pumpa melayani setiap 1 silinder. Seperti yang terlihat pada skema dibawah ini,

A. Jenis rotary       B. Jenis In LIne

4. Injektor

Konstruksi mesin diesel
Keterangan no pada gambar :
1. Pegas Tekanan
2. Jarum Nozzle
3. Bodi Nozzle
4. Shim penyetel

Bagian ini menerima bahan bakar bertekanan tinggi dan menginjeksikannya ke dalam ruang pembakaran. Saat tekanan bahan bakar yang dipompakan oleh pompa injeksi menjadi lebih besar dari pada beban pegas tekanan, maka tenaganya mendorong jarum nozzle ke atas.

Hal ini menyebabkan pegas tekanan menjadi mampat dan bahan bakar diinjeksikan ke ruang pembakaran. Tekanan injeksi dapat disetel dengan cara membedakan ketebalan shim penyetel, yang secara efektif mengubah beban pada pegas.

Proses kerja injektor Diesel
Seperi yang terlihat pada gambar proses kerja injektor diatas, bahwa ketika bahan bakar bertekanan tinggi dari pumpa injeksi akan menekan pegas keatas. Hal ini terjadi karena tekanan bahan bakar lebih besar dibandingkan dengan kekuatan pegas. Sehingga jarum nozle akan terbuka dan bahan bakar keluar dengan berbentuk kabut.  Sedangkan bahan bakar yang tidak sempat keluar melalui jarum nozle akan kembali melalui saluran kembali ke tangki bahan bakar.